Langsung ke konten utama

Postingan

And, No.. There’s No Magic Involved.

I didn’t like English. Wait... No, I hated English. Since elementary school, where English was first introduced to this plain little 3 rd grader girl, I hated it already. Unimportant, I insisted. In addition, my English teacher was sooo unbelievably annoying; an old man, lame, and like a fairytale bed story, always made me sleepy. I almost always slept in that English class. Homeworks were done on the morning by looking at the others’ works. Don’t ask about my textbook.. sleek, clean-cut, and stay still; a forever new book. I made jokes when studying the English vocabularies and phrases, never took it seriously. About studying at home... Ugh, ain’t nobody got time for that?! Dictionary? That most boring thing ever exists in the world? No, thank you. I still had my conan and doraemon comics to be read interestedly. Just being honest, it deeply didn’t make any sense for me, why do we have to learn the others’ language? It’s not like I’d be living in that country, well I even didn’t...

7.281 miles Away

Aku mengenalnya pertama kali saat orientasi kampus.. Dua tahun lalu. Ketika kebanggaan akan keberhasilan menjadi salah satu mahasiswi di kampus kuning itu masih membuncah ke puncak, di ruangan megah nan besar dalam pakaian serba putih polos yang kukenakan, lengkap dengan nametag bertuliskan nama dan asal sekolahku, aku melihat dia berdiri di atas panggung di depan sana bersiap memberi sambutan untuk aku dan sekitar 6000 teman baruku yang lain. Ketua Badan Eksekutif Mahasiswa, kata MC tadi. Siang hari yang panas ditambah dengan puasa yang sedang aku jalani, sukses membuyarkan segenap konsentrasiku dari tadi, namun ada yang berbeda ketika suaranya mulai menggaung melalui pengeras suara di setiap sudut penjuru ruangan. Fokusku terkumpul kembali. Aku mendongakkan kepala lebih tinggi lagi, menyipitkan mata, memastikan bahwa aku bisa melihatnya dengan jelas. Oh, itu toh orangnya, ujarku dalam hati. Ya, aku sudah mengenal, ehm, tepatnya mengetahuinya, dari sebelum aku injakkan kaki di ...

Mushalla Kecil Belakang Rumah

Suara adzan yang sangat khas itu selalu turut ramai menghiasi 5 waktu shalat, bersahut-sahutan dengan muadzin-muadzin dari mushalla dan masjid di sekitarnya. Ya, suara lelaki itu memang amat sangat khas. Bukan merdu, bukan pula lantang menggema. Suaranya begitu... sederhana. Sehari-hari jika sedang dirumah, suara lelaki itu tak pernah terlewat dari gendang telingaku, menandai waktu-waktu shalat. I can say that his voice is one of the sounds that I grow up together with. Aku bahkan tak bisa mengingat-ingat kapan pertama kalinya mendengar suara khas lelaki itu dari pengeras suara mushalla kecil di belakang rumahku. Setiap waktu shalat datang, ada beberapa jenis suara adzan yang lekat sekali di telingaku karena memang selalu dikumandangkan bersahut-sahutan satu sama lain. Suara sederhana lelaki itu juga turut serta. 

That (Random) Feeling

Pernah nggak, kamu merasa suka/naksir/adore/admire seseorang, tapi kamu cuma bisa diam? Bukan, bukan karena kamu takut, atau karena dia udah ada yang punya. Tapi karena kamu ngerasa kalau kamu tidak berada di 'level' yang sama dengannya. Bukan minder ataupun rendah diri, tapi lebih ke... sadar diri.

Paramedis Kriminal?

Hari ini, 27 November 2013, lagi panas nan hot-hot nya isu tentang 'Kriminalisasi Dokter'. Ini bikin saya makin gagal paham sama hukum di Indonesia. Like.. seriously, people? Dunia medis dan kesehatan itu sesuatu yang ngga bisa dengan mudah dipahami semua orang, termasuk juga mereka-mereka yang bilang udah 'expert' di bidang hukum dan sebagainya. Calon-calon paramedis, spt Dokter dan Perawat, butuh 5-6 tahun (4 tahun praklinik, 1 dan 2 tahun klinik) untuk belajar dan dinyatakan qualified untuk MENOLONG ORANG. Para Jaksa Yang Terhormat itu menggunakan pasal-pasal KUHAP PEMBUNUHAN untuk menjerat paramedis yang terlibat masalah; gagal menolong pasien. Dengan mudahnya bilang... Malpraktik.

Mein Traumhaus

Ich habe ein Traumhaus. Mein Traumhaus is in der Stadt, in London. Es hat ein Wohnzimmer, vier Schlafzimmer, ein Esszimmer, zwei Badezimmer, eine Küche, einen Leseraum, eine Garage, und viele Fenster. Im Esszimmer stehen fünf Stühle, ein Tisch, und ein Teppich. Das Wohnzimmer hat zwei Sofas, zwei Sessels, einen Tisch, zwei Zimmerpflanzen, einen Kamin, und einen Fernseher. Die Küche ist ziemlich klein aber das ist schön und sauber. Der Leseraum ist mein Lieblingsplatz in das Haus. Da stehen ein Sofa mit viele Kissen, ein Tisch, ein Teppich, eine Holzleiter, zwei Stehlampen, und natürlich, ein groß Bücherregal mit viele Bücher. In das Bücherregal gibt es Romane, Enzyklopädie, Wörterbücher, Geschichtsbücher, Landkarten, und die anderen. Der Leseraum ist breit, ruhig, sehr angenehm und hell! Das haus hat auch ein Schwimmbad und einen Garten. Ich kann es spielen mit meine Familie. Dieses Haus ist nicht billig, aber das ist normal. Mein Traumhaus ist sehr schön...

Flashback TURKEY Memories (part.1)

I was doing nothing in front of my laptop when suddenly I realized that I haven't shared anything about my Turkey moments. Yep like literally ANYTHING. Oh my goodness beg your apologize please :") *agak lebay ya maap* Just FYI for those who didn't know, I was staying in Turkey for 6 weeks in 2013's winter season from January till mid of February. It's my really first time to go abroad by myself , truly stood on my very own. So, here the story goes~ Saturday, January 6th. My journey started in Juanda airport, Surabaya, where I went to Jakarta from, accompanied with my daddy. But my really real own journey began in Soekarno-Hatta airport, Jakarta, where I should separate with Dad and entered the departure gate pushing my trolley full of luggage, all by myself! I couldn't hold my tears when hugging Dad, and he, as usual, acting so tough to give me more strength.